Istilah paragraf sudah sering kita dengar, bahkan kita sering
menggunakannya dalam percakapan maupun dalam praktik dan proses belajar
mengajar. Namun bila ditanya apakah paragraf itu, maka jawaban yang didapat
akan bervariasi, karena jawaban yang paling tepat sulit untuk ditentukan.
Kemungkinan sebab kevariasian jawaban yang didapat bertolak dari suatu tinjauan
yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada beberapa batasan yang diberikan oleh
beberapa ahli berikut ini.
Barnet dalam Djago Tarigan
(1991:10-11) mendefinisikan bahwa paragraf merupakan seperangkat kalimat
berkaitan satu sama lainnya. Sedangkan
Djago Tarigan sendiri
berpendapat, paragraf adalah seperangkat kalimat yang tersusun logis
sistematis dari satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung
pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan. Pengertian paragraf
menurut Adjat Sakri (1992:35) merupakan satuan terkecil sebuah karangan, isinya
membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan oleh
penulis dalam karangannya. Sama
dengan yang diungkapkan Kuntoro (2008:153) yang menyatakan bahwa paragraf
merupakan bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan
secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran. Lain lagi dengan yang diungkapkan Ahmadi (1991:1)
yang menyatakan bahwa paragraf adalah sekumpulan kalimat yang merupakan
pengembangan dan ilustrasi dari sebuah paragraf “pikiran atau gagasan utama” (main idea). Sedangkan menurut Arifin dan
Tasai (1995:121) mengemukakan bahwa paragraf adalah seperangkat kalimat yang
membicarakan suatu gagasan atau topik. Hal yang sama diungkapkan Mustakim (2005:86)
paragraf merupakan rentetan kalimat
tertulis yang berkaitan yang berbicara tentang satu gagasan. Pengertian paragraf menurut Akhadiah dkk. (1996:144) merupakan inti penuangan buah
pikiran sebuah karangan. Berbeda dengan pendapat Walija (1996:63) menurut beliau alinea bukanlah
sekedar kalimat atau kumpulan kalimat yang ditulis sekelompok, tetapi merupakan
kesatuan pikiran atau ide.
Paragraf
bukanlah karangan sepenuhnya, hanya saja sebagian dari seluruh karangan.
Meskipun begitu, menurut Mustakim (1994:32) sebuah paragraf sudah merupakan
satu sajian informasi yang bulat-utuh, maka dalam bahasa Inggris paragraf juga
disebut sebagai thinking unit (kesatuan
pikiran). Jadi dapat dikatakan paragraf adalah karangan yang paling pendek atau
singkat.
Berdasarkan
penjelasan di atas mengenai pengertian paragraf menurut para ahli,
dengan demikian penulis menyimpulkan
paragraf adalah seperangkat kalimat yang tersusun logis dan sistematis yang
saling berkaitan dan merupakan satuan ide dan buah pikiran dalam sebuah
karangan.
B.
Ciri-Ciri Paragraf
Bila dilihat dari strukturnya, maka tidak ada batasan yang
tepat untuk menentukan panjang dan pendeknya sebuah paragraf, karena panjang
dan pendeknya sebuah paragraf bergantung pada banyaknya kalimat yang akan
dikemukakan untuk mendukung ide pokok dalam paragraf tersebut. akan tetapi
Chaedar Alwasilah dan Suzana Alwasilah (2007:120) berpendapat batas panjang
alinea dalam tulisan akademik yakni 200-250 kata, dan setiap kalimat tidak
boleh lebih dari 19 kata.
Sebuah paragraf dapat ditandai dengan melalui kalimat pertama
agak menjorok ke dalam dari margin kiri dan
selalu mulai dari garis baru. Dengan demikian paragraf mudah dibaca dan setiap
paragraf berisi satu pikiran, gagasan atau tema. Jika satu paragraf berisi dua
tema maka paragraf itu harus dipecah menjadi dua paragraf, karena tidak
termasuk syarat-syarat paragraf yang baik. Hal tersebut senada dengan yang
diungkapkan Margaret J. Miller dalam Anwar (2004:123) yang menyatakan bahwa
sebagaimana halnya suatu kalimat harus mempunyai kesatuan pikiran (unity of thought), begitu juga suatu
paragraf harus mempunyai satuan pokok acara atau topik (unity of topic).
C. Syarat-Syarat Pembentukan Paragraf
Secara umum dikatakan suatu paragraf menjadi efektif apabila
telah memenuhi syarat-syarat paragraf yang baik, karena paragraf yang disusun
dengan baik, maka akan menghasilkan paragraf yang baik juga. Setiap efektivitas
suatu paragraf dapat ditentukan dari bagaimana paragraf itu diatur dan
difungsikan untuk mencapai tujuannya di dalam keseluruhan komposisi dan dalam
sebuah paragraf hanya terdapat satu pikiran atau gagasan.
Frank Chaplen dalam bukunya “Paragraph Writing” dalam
Anwar (2004:123) berpendapat, sebuah paragraf dalam berita atau tulisan barulah
dapat dikatakan baik apabila pembaca sepenuhnya mengerti kesatuan informasi
atau unit of information yang
terkandung di dalamnya, dan apabila gagasan yang mengendalikannya atau ‘controling idea’ sepenuhnya
diperkembangkan.
Menurut pendapat Arifin dan Tasai (1995:122) paragraf
yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan
paragraf. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang membangun suatu paragraf harus
disusun secara cermat agar ide pokok paragraf itu saling berkaitan dan menjadi
kesatuan yang bulat utuh, karena kepaduan paragraf dapat terlihat melalui
penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan atau kata-kata
pengait antarkalimat.
Syarat paragraf yang baik dijelaskan maksud dan cara
pengembangannya. Kalimat utama yang menyatakan isi paragraf secara umum
dijelaskan atau dijabarkan dengan kalimat-kalimat penjelas yang khusus dan
konkret. Dengan demikian pikiran utama menjadi jelas karena adanya
perincian-perincian tersebut.
Rangkaian struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah
kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Dengan kata lain, dalam sebuah
karangan suatu paragraf yang dibangun dari setiap kalimat-kalimat itu harus
saling mendukung, saling menunjang, dan saling berhubungan, karena topik
paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf.
Menurut Syafi’ie (1990:136) menyatakan bahwa paragraf
yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu kesatuan, koherensi, dan
kelengkapan. Sebuah paragraf dikatakan memenuhi kesatuan yang baik jika kalimat
yang membangunnya hanya menyatakan satu pikiran atau gagasan pokok,
sedangkan koherensi ialah kepaduan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang
lain dan kelengkapan ialah rincian pikiran pokok ke dalam pikiran-pikiran
penjelas dan pengurutannya secara teratur.
Sebuah paragraf dikatakan efektif
bila paragraf tersebut dikembangkan dengan baik. Dalam pengembangan paragraf
kita harus menyajikan dan mengorganisasikan gagasan menjadi satu paragraf yang
memenuhi suatu persyaratan, di antaranya kesatuan, kepaduan dan kelengkapan.
Contoh:
1.
Paragraf yang kurang baik
David Beckham adalah seorang pemain
sepak bola yang sukses. Kehidupan David Beckham selalu bergelimangan kekayaan
dan kepopuleran. David Beckham masih terikat kontrak dengan Real Madrid sampai
Juni 2007. David Becham sudah mengumumkan secara resmi kepindahannya ke LA
Galaxy di liga Amerika Serikat. David Beckham sudah meneken kontrak transfer
250 juta dolar AS. David Beckham banyak mendapatkan kritikan dan laporan di
berbagai media masa. Masalah ini tetap membuat nama David Beckham popular dan
menjadi buah bibir di jagat persepakbolaan dunia. (Kuntoro, 2008:153)
Pada paragraf 1 di atas, tidak
termasuk paragraf yang baik. Karena antara
kalimat yang satu dengan yang lainnya tidak terangkai dengan baik, selain pengurutannya terlihat tidak teratur, paragraf di atas
juga tidak berpautan karena
tidak terdapat kata transisi yang menghubungkan antarkalimat sehingga kalimat
yang satu dengan yang lainnya tidak padu, dan pikiran penjelas yang digunakan tidak
menunjang pikiran utama, sehingga membingungkan pembaca. Pada paragraf di atas juga tidak digunakan kata
ganti pada kalimat penjelas yang menunjang keterpaduan dengan kalimat utama.
2.
Paragraf yang baik
David Beckham adalah seorang pemain
sepak bola yang sukses. Kehidupan,
suami Victoria Becham ini selalu bergelimpangan kekayaan dan kepopuleran.
Walaupun masih terikat kontrak dengan Real Madrid sampai Juni 2007, mantan
kapten Inggris ini sudah mengumumkan secara resmi kepindahannya ke LA Galaxy di
liga Amerika Serikat. Bahkan, pemain yang memiliki tendangan jarak jauh yang
mematikan lawan ini sudah meneken kontrak transfer 250 juta dolar AS. Selain
menerima gaji 250 juta euro per tahun hingga Juni 2007 dari Real Madrid, ia
juga akan menerima 250 juta dolar AS dar LA Galaxy. Akibat pemberitahuan ini,
lelaki yang pernah berselisih dengan pelatihnya di Manchester United ini banyak
mendapatkan kritikan dan laporan tidak sedap tentang dirinya di berbagai media
masa, tetapi ayah dai Brooklyn, Romeo, dan Cruz ini tetap menjadi pemain sepak
bola yang terpopuler dan menjadi buah bibir di jagat persepakbolaan dunia.
(Kuntoro, 2008:155)
Pada paragraf 2 di atas,
kalimat-kalimat terangkai dengan baik, sehingga mudah dipahami dan memenuhi
persyaratan paragraf yang baik juga. Karena terdapat kesatuan, kepaduan, dan
kelengkapan. Digunakan juga kata ganti pada penggunaan nama David Beckham,
untuk menunjang keterpaduan dengan kalimat utama, dan kata transisi untuk
menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, sehingga terdapat keterpaduan
antar kalimat.
D. Kegunaan Paragraf
Mengapa harus ada paragraf? Jawabannya sederhana,
yaitu agar apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca dapat ditangkap dengan
mudah dan jelas. Mempelajari paragraf merupakan hal yang sangat penting bagi
para penulis pemula yang belum banyak pengalamannya, terutama jika ia merasa
kesulitan untuk menuangkan dan mengembangkan gagasannya. Anwar (2004:123) berpendapat,
menulis paragraf berarti mendisiplin diri untuk mengutarakan pikiran dalam
bahasa yang terang dan jernih.
Kegunaan
paragraf sendiri menurut pendapat Akhadiah dkk. (1996:144) yang utama adalah
untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut topik
sebelumnya. Dengan kata lain kegunaan dari paragraf adalah untuk menambah
hal-hal yang penting atau mengembangkan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Dengan adanya paragraf, kita dapat mengetahui di mana suatu gagasan dimulai dan berakhir, karena paragraf merupakan sekelompok kalimat yang saling berkaitan dan yang mengembangkan suatu gagasan, setiap paragraf hanya memiliki satu pikiran atau gagasan. Kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan-aturan tertentu dalam paragraf makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas.
Dengan adanya paragraf, kita dapat mengetahui di mana suatu gagasan dimulai dan berakhir, karena paragraf merupakan sekelompok kalimat yang saling berkaitan dan yang mengembangkan suatu gagasan, setiap paragraf hanya memiliki satu pikiran atau gagasan. Kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan-aturan tertentu dalam paragraf makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas.
E. Jenis-Jenis Paragraf
Berdasarkan tujuannya, paragraf
dapat dibedakan menjadi paragraf pembukaan yang berperan sebagai pengantar
untuk sampai kepada suatu masalah yang akan diuraikan, kemudian paragraf
penghubung yang berperan mengemukakan masalah yang diuraikan dan setiap
paragraf harus saling berhubungan secara logis atau disebut juga sebagai
paragraf pengembang yang terletak di antara paragraf pembuka dan paragraf
penutup, sedangkan paragraf penutup yang berperan mengakhiri sebuah karangan
dan biasanya berisi kesimpulan dan penegasan kembali hal-hal penting yang
terdapat dalam paragraf.
Menurut Syafi’ie (1990:129) unsur
paragraf itu ada empat macam, yaitu transisi, kalimat topik, kalimat
pengembang, dan kalimat penegas. Dalam pengembangan paragraf, unsur paragraf
ini berfungsi untuk membangun dan mengatur paragraf agar tersusun secara logis
dan sistematis.
Contoh:
Sebaliknya,
di rumah, Pak Ali sering marah-marah. Sarapan pagi yang terlambat dihidangkan
apalagi dalam keadaan dingin ia langsung memukul-mukul meja makan sambil
memaki-maki pelayan dapur. Kamar tidur tidak bersih giliran pelayan kamar kena
omelan. Bila letak buku atau surat-surat berubah dari tempat semula maka ia
langsung menegur istri atau anaknya. Kalau pekarangan mobil tidak bersih alamat
pelayan taman kena “semprot”. Boleh kata Pak Ali melampiaskan marahnya setiap
ada yang tidak beres di rumah. (Tarigan, 1991:14)
Pada paragraf di atas, kata
“sebaliknya” merupakan kata transisi, yang kemudian dilanjutkan dengan “Pak Ali
sering marah-marah” yang berperan sebagai kalimat topik, kemudian kalimat topik
tersebut dikembangkan dengan kalimat-kalimat penjelas yang disusun secara
logis, dan dilanjutkan dengan kalimat “Boleh kata Pak Ali melampiaskan marahnya
setiap ada yang tidak beres di rumah” yang berperan sebagai kalimat penegas.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR
PUSTAKA
Akhadiah,
Sabarti. 1998. Pembinaan dan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta : Glora
Aksara Pertama.
Anwar,
Rosihan. 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesia
dan Komposisi. Jakarta : Media Abadi.
Arifin,
E. Zaenal dan Tasai. S. Amran. 1995. Cermat
berbahasa Indonesia,
Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta
: Akademi Pressindo.
Arikunto,
Suharsimi. 2003. Manajemen Penelitian.
Jakarta :
Rineka Cipta.
M.
Kuntoro, Niknik. 2008. Cermat dalam
Berbahasa Teliti dalam Berpikir. Jakarta
: Mitra Wacana Media.
Mustakim.
1994. Membina kemampuan Berbahasa,
Panduan Ke Arah Kemahiran Berbahasa. Jakarta
: Gramedia Pustaka Utama.
Mustakim,
Zenal Arifin. 2005. Bahasa Indonesia Bagi
Sekertaris. Jakarta
: Grasindo.
Sakri,
Adjat. 1992. Bangun Paragraf Bahasa Indonesia.
Bandung : IPB Bandung.
Semi,
M. Atar. 1995. Dasar-Dasar Keterampilan
Menulis. Bandung
: Mugantara.
Sudarno.
dan A. Rahman, Eman. 1992. Terampil
Berbahasa Indonesia.
Jakarta : PT.
Hikmat Syahid Indah.
Syafi’ie,
Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi.
Malang : IKIP Malang.
Tarigan, Djago. 1991. Membina keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya. Bandung : Angkasa.
Tukan,
P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia 3,
SMA Kelas XII Program Bahasa. Jakarta
: Yudistira.
Walija.
1996. Komposisi, Mengolah Gagasan Menjadi
Karangan. Jakarta
: Penebar Aksara.